pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami pacaran islami, pernikahan islami
Pernikahan, suatu peristiwa fitrah, fiqyah, dakwah, tarbiyah, sosial dan budaya
  Halaman Depan
  Buku Nikah
  Proposal Nikah
  Referensi Nikah
  Buletin Nikah
  Busana Nikah
  Pacaran Islami ?
  Buku Tamu
  Tentang Saya

Promosi

rumah jonggol
rumah bogor
rumah cibubur
rumah citra gran

 
 
 

Versi cetak - Dibaca 22354 kali

Istri Untuk Suamiku

 

tentang-pernikahan.com - Malam itu tak ada yang istimewa kecuali tatapanku pada sesuatu yang cukup menyedot seluruh isi jiwaku. Ya, suamiku berpamitan untuk memasuki kamar pengantinnya sambil mengatakan, "Titip anak-anak, ya Mi!" Tangisku pun meledak saat itu juga. Sakit sekali. Dan aku pun terbangun sambil menangis dengan air mata berderai ditingkahi dengan ekspresi kebingungan suamiku.

Ini adalah sepenggal mimpi yang kualami pada malam ketujuh pernikahanku. Bagi sebagian orang, mimpi hanya dianggap sebagai bunga tidur. Bagi seorang mukmin mimpi baik adalah dari Allah dan mimpi buruk dari setan. Bagiku, sulit untuk mengklasifikasikannya sebagai mimpi baik atau buruk.

Suatu saat di sebuah forum ta’aruf, pihak ikhwan menanyakan pandangan sang ukhti tentang poligami. Di luar dugaan akhwat yang sudah lama tertarbiyah itu menjawab dengan mantap, "Langkahi dulu mayatku!" Di kesempatan lain ada umahat yang ditanyai suaminya, "Gimana kalau Abi nikah lagi?" Dengan kalem isterinya menjawab, " Enakan gini ajalah, Bi!"

Poligami! Mungkin ini kata yang paling ditakuti oleh sebagian besar wanita. Dan membaca judul di atas lebih banyak wanita yang mengucap na’udzubillah daripada insya Allah. Memang harus diakui, ketakutan ini pun ternyata juga melingkupi kalangan da’iyah alias aktivis dakwah. Wajar memang. Karena, rasa cinta sering membuat kita tidak ingin berbagi, apalagi berbagi suami.

Pernah di suatu majalah, termuat tulisan seorang umahat yang suaminya baru saja meninggal: hati saya yang sedih bertambah sakit melihat sikap umahat lain yang kelihatan sudah mulai was-was kalau suami mereka nanti akan menikahi saya.

Dalam hidup ini kita dibebani untuk beribadah dan jadi khalifah. Dua tugas yang akan memuliakan, siapa pun yang berani dan sanggup memperjuangkannya. Termasuk dalam hal ini masalah poligami. Membayangkan suami menikah lagi saat kita masih hidup adalah sesuatu yang mengerikan. Minimal, tidak menyenangkan. Apa kata orang tua, tetangga, kerabat. Hal ini wajar, karena kesan poligami di masyarakat kita masih sangat negatif. Tapi, hukum Allah tidak akan berubah. Poligami diperbolehkan, artinya tidak dilarang walaupun juga tidak dianjurkan. Menjaga batas bahwa ini diperbolehkan, itulah yang tidak mudah.

Sering tanpa sadar, kita telah membuat hukum poligami menjadi haram. Minimal, makruh dengan berbagai alasan. Sehingga, bila hal itu dialami oleh sebagian dari kita, kita merasa perlu untuk turut berduka cita.

Kisah yang luar biasa saya dapatkan ketika seorang umahat dari kota gudeg melepas suaminya menikah lagi. Saat tamu-tamu umahat menyalaminya dengan tangis di wajah, maka dia malah bertanya: "Kenapa menangis? Padahal, ini adalah momen yang membahagiakan?" Subhanallah, inilah jawaban yang menunjukkan kejujuran iman.

Bicara mengenai poligami dalam aplikasinya yang `nyunnah‘, saya kira tidak ada masalah.

Dalam hal ini tidak ada yang menyakiti dan disakiti. Tapi, ini hanya bisa terwujud bila ketiga belah pihak menempatkan diri sesuai dengan porsinya masing-masing. Dan, porsi di sini adalah syariat Allah. Ini tidak mudah, kecuali bila lapang dada Allah karuniakan pada semua pihak yang terlibat di dalamnya. Lurusnya niat untuk semata-mata memohon kebaikan di dunia, akhirat, serta dakwah, juga sangat menentukan keberkahan dari keputusan untuk berpoligami.

Kembali ke mimpi saya. Dari tujuh hari pernikahan sampai memasuki tahun ketujuh. Dari hidup berdua, sampai hidup berlima dengan tiga buah hati. Waktu yang cukup lama untuk belajar tentang banyak hal, terutama belajar bagaimana mencintai. Belajar untuk terus menambah rasa syukur atas kesempatan yang Allah berikan berupa karunia pendamping yang shaleh. Belajar bahwa mencintai adalah keinginan untuk membahagiakan dan bukan sekadar keinginan untuk memiliki. Belajar bahwa was-was dan khawatir tentang apa pun yang akan terjadi adalah tipu daya setan. Maka, ketenangan pun merasuki seluruh jiwa dan raga.

Bila tahun-tahun awal pernikahan, canda suami tentang poligami selalu mendapat reaksi marah dan sedih. Terlepas, dari teori Ustadz Cahyadi, bahwa bila suami sering mengajak bicara soal poligami sebenarnya dia tidak benar-benar ingin melakukannya. Dan sebaliknya, jika suami jarang membicarakannya, kemungkinan besar dia malah benar-benar menginginkannya.

Saat ini, saya berharap bisa menjawab dengan arif, "Insya Allah, kalau itu akan membahagiakanmu dan akan menambah kecintaan Allah pada kita, maka aku jadi orang pertama yang akan mendukungmu untuk berpoligami." –wallahu’alam–


Komentar-komentar :

 Renny - bekasi
Alhamdulillah sampai 16 tahun usia perkawinan kami, suami saya belum pernah menyinggung "poligami", bahkan pd saat dokter ginekolog menyatakan kemungkinan saya hamil kecil suami saya full support pada saya.

Kalaupun harus menyatakan pendapat: lebih baik single parents daripada harus mendua, karena saya adalah anak yang lahir dari keluarga "poligami" percayalah suasananya sangat"berbeda".

Wassalam

 edy - jakarta
Assalamu'alaikum
Artikelnya luar biasa. Terus terang, saya tidak yakin apakah penulisnya kelak benar-benar bisa menjawab arif seperti di akhir artikel ini.

O ya, satu lagi. Kenapa tidak ada indentitas si penulis artikel ya? Apa aturannya memang begitu.

Thx
Wassalamu'alaikum

 syifa - KT
Saya akhwat, saya setu7 banget dengan yang namanya poligami. saya belum menikah, tapi kalo suami saya menikah saya akan memperkenankanya untuk menikah lagi dan mendorongnya untuk menikah lagi.

 ahmad - jogja
dulu sitri saya pas taaruf juga menggebu2 begitu untuk mendorong saya poligami ..tapi setelah menikah, saya coab bicarakan lagi, tenyata hatinya sangat mudah teriris dan bilang "mas biar adek hamil dulu" karena dulu istri saya kista dan alhamdulilah dengan izin Allah sembuh dengan habbatussauda dan madu..sekarang dah punya anak dan keinginan itu masih bahkan sebenarnya semakin besar mengingat dari sisi ekonomi juga Alhamdulillah mampu..tapi ya begini, jadilah saya sekarang menunggu dan menunggu untuk membicarakan lagi apalagi setelah punya anak...
ada yang bisa membantu?saya sangat berteima kasih sekali..email saja ahmadmarkazowner@yahoo.co.id

 merry - surabaya
sama seperti istri bpk ahmad, dulu pas taaruf juga menggebu2 begitu untuk mendorong suami poligami, hingga pernikahan berkalan dan anak2 besarpun kami sering bicarakan, dan tersirat bahwa suami tdk berniat poligami. tapi begitu dia menyampaikan bahwa dia punya calon untuk istri kedua, rumah tangga jadi seperti neraka bagi saya, walaupun tdk saya tampakkan. apa saya nyaman dan bahagia? tidak seorangpun tau bahwa saya menangis setiap malam. jd benar2 pahami perasaan istri bpk yaa..

 

Nyumbang komentar ?

Nama

Email

Untuk photo silahkan register di gravatar

Domisili

Komentar

:

 

 :  CAPTCHA Image

 

 :    Reload Image

Artikel sebelumnya ....

 Pahala Menafkahi Keluarga

 Isteriku Tetap Yang Paling Cantik

 Kemenangan Cinta

 Ketika Cinta Bersemi Kembali

 Suamiku, Bacakan Riyadlush Shalihiin Untukku

 Siapa Berdoa Untuk Saya?

 Mencintaimu Karena Allah Swt

 Bila Wanita Tak Pintar Masak

 Di Saat Menjawab Isak Pilu Tangis Sang Istri

 Cintailah Aku Apa Adanya

 Istri Yang Di Anggap Durhaka Kepada Suami

 Indahnya Keluarga

 Pelajaran Berharga Bagi Para Orangtua

 Agar Anda Bahagia Dengan Suami Anda

 Teruntuk Istriku

 5 Pilar Keluarga Sakinah

 Kemelut Rumah Tangga

 Jihad Seorang Istri

 Hadiah Cinta Untuk Melati

 Hal Yang Disukai Istri Dari Suaminya

 Kado Untuk Suamiku

 Menjadi Ratu

 Istri Yang Shaleha

 Merajut Cinta Di Bawah Ancaman Kematian

 Memikat Cinta

 Ketika Kutatap Wajah Istriku

 Titipan Allah

 Rasulullah Saw Figur Suami Yang Menyenangkan

 Upss?.rasanya Ingin Di Peluk !"

 Bersinarlah Matahariku




~ Website-nya cerpen & artikel pernikahan islami serta pacaran islami (emang ada?) ~

Hak cipta selamanya oleh Allah © Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan sumber situs web ini

Pujian, masukan, krititikan, cacian, hujatan : aa_aanang [at] yahoo [dot] com