artikel, cerpen, nikah artikel, cerpen, nikah artikel, cerpen, nikah artikel, cerpen, nikah

Pernikahan Dini

Buletin Imud Edisi 06/Th.1/Sep.III/2001

 

Tanpa disebutin kepanjangan inisial "PD", sobat muda sudah ngelontok dengan inisial ini, karena hampir saban hari kita melihat klip promo sinetron "Pernikahan Dini' di RCTI yang dibawakan oleh Syahrul Gunawan dan Agnes Monica.

Sinetron ini begitu mengena bagi pemirsanya, terutama bagi remaja yang emang dekat dengan idiom 'PD' alias percaya diri. Sinetron yang menceritakan Pak Duta (diperankan Rudy Salam) yang posesive membuat kedua anaknya tertekan; diperankan Attalarik Syach dan Agnes Monica. Sinetron berdurasi 60 menit ini mengisahkan dua kakak beradik yang mendambakan kasih sayang. Ortu mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing, sehingga tidak ada komunikasi yang baik antara ortu dan anak. Kalo udah begini, bisa ditebak kan, bagaimana liarnya anak-anak. Maka wajar kalo kemudian mereka terjun dalam kehidupan yang dia anggap sebagai jalan terbaik yang harus dipilih. Termasuk pergaulan bebas. Bebas yang bablas. Wes?. hewes hewes, bablas, imanne!!!

Rating alias nilai tayangan unggulan, menunjukkan sinetron "PD" ini berada di atas angin, hasil survey dari ACNielsen periode 24-30 Juni 2001 lalu, ternyata menghasilkan bahwa rating Pernikahan Dini sebesar 21,8 lebih baik dari "Wah?Cantiknya"-nya SCTV, yang pada pekan tersebut melorot menjadi 19. Dan dalam ranking, Pernikahan Dini juga berada pada posisi pertama, di atas "Wah?Cantiknya" yang menempati urutan kedua. Rupanya Pernikahan Dini akan tetap menempati posisi teratas. Kenapa bisa begitu? Pembesaran konflik, kejelasan karakter dan pelebaran peristiwa itulah yang bikin penasaran dan menunggu bagaimana bingungnya menjadi orang tua yang masih sangat belia? bagaimana kelanjutan konflik-konflik intern, yang berkembang menjadi perseteruan extern antara masing-masing orang tua pasangan tersebut. (Sumber:Buletin Sinetron)

Boleh dibilang, sinetron "PD" ini ingin menggambarkan Realita yang ada dalam pergaulan remaja saat ini. Kalo boleh mengatakan, Pernikahan Dini rada-rada mirip serial "Dawson's Creek"-nya TPI. Tema-nya nggak lepas dari persoalan gaul remaja. Hanya saja, "PD" lebih fokus ngebahas tentang fenomena MBA alias Married by Accident. Gimana sih, kalo itu kejadian? Kayak apa sih tersiksanya? Bagaimana mengatasi kehidupan seperti itu? Bagaimana dengan masa depan kehidupan korban MBA dan juga anaknya? Kenapa bisa terjadi seperti itu? Pertanyaan-pertanyaan seputar itulah yang bikin remaja kita keranjingan menggilai sinetron ini.

Pernikahan Dini emang mewakili banget kehidupan remaja. Khususnya ketika remaja yang bergaul bebas terlanjur hamil. Sementara untuk melakukan aborsi takut, udah gitu kebetulan gacoannya mau bertanggung-jawab untuk menikahinya --meski dengan paksaan. Akhirnya ya, memilih membesarkan calon anaknya meski dengan menyandang status MBA. Namun, sebagai catatan saja, konon kabarnya Agnes Monica malah bangga dan makin cuek. Bayangkan, setelah bermain di sinetron ''Pernikahan Dini'', Agnes menjadi pe-de bahwa MBA (married by accident) merupakan solusi terbaik untuk mengatasi dampak pacaran remaja yang berbuah kehamilan. Walah, bener-bener kesleo otaknya anak ini!

Memang benar, hal yang paling menakutkan bagi remaja dalam pergaulan bebas mereka adalah masalah kehamilan dan penyakit menular. Sehingga, saat pacaran mereka selektif banget dan ketat supaya nggak terjadi kehamilan atawa tertular penyakit seksual Tapi teman remaja lupa, bahwa akar masalahnya justru aktivitas pacarannya itu. Coba, dua insan berlainan jenis yang sedang dimabuk asmara, pasti pengennya deket-deketan aja. Kalo kebetulan jauh, tinggal pencet angka-angka di telepon atawa ponsel. Lalu ketawa-ketiwi melepas kerinduan, malah nggak jarang diselingi bicara "ngalor-ngidul" yang ada sangkut pautnya dengan masalah gaul mereka. Dan bila ada kesempatan, langsung bikin janji untuk ketemu. Kalo udah gitu, jangan harap kamu bisa mengendalikan diri. Ujungnya? Hubungan "luar-dalam" pun tak mustahil bisa kamu jalani. Ih, naudzubillahi mindzalik

Pacaran = kredit zina

Tuduh-menuduh atawa tuding-menuding tentang siapa yang kudu bertanggung-jawab, boleh-boleh saja. Namun ingat, kita kudu jeli dan jangan asal tuduh, kayak gayanya pemerintah Amrik atas peristiwa 11 September kemarin, dimana Bush langsung menuduh kelompok Islam berada di balik teror tersebut. Seperti kita ketahui, saat itu lima pesawat jumbojet milik maskapai penerbangan AS jatuh dan tiga di antaranya sukses menghancurkan "simbol" kedigdayaan AS; gedung WTC (World Trade Center) dan gedung Pentagon. Nah, kalo dalam masalah MBA, kamu menuduh bahwa yang salah cewek or cowok, tentu itu nggak kena dong. Sebab, justru masalah utamanya adalah aktivitas pacarannya itu, pacaranlah biang keladinya. Jadi yang kudu dituduh or ditunjuk hidung adalah budaya jahiliyah ini. Akibat tradisi inilah hubungan antara pria dan wanita menjadi rusak, tak lagi bermakna dan nggak sakral.

Kenapa sih kamu kok kayaknya merasa kudu menjalani aktivitas pacaran? Ayo, yang merasa melakukan perbuatan dosa ini tolong jawab, tapi dalam hati masing-masing (emang dengerinnya gimana?) Pengen kenal lebih dekat? Pengen ada teman ngobrol untuk curhat? Agar bisa disebut laku? Pengen nyari suasana baru? Rugi, donk kalo ada doski cakep dianggurin? Tapi yang pasti, pacaran udah menjadi gaya hidup remaja. Bener, kayaknya kalo nggak melakukan itu takut dianggap kuno, ngeri kalo dianggap kuper, alergi kalo mendapat sebutan nggak laku, minder kalo digelari anak yang nggak punya "nafsu", atau takut mendapat predikat anak yang punya kelainan jiwa. Wah, pokoknya banyak banget sebutan yang sengaja terus diciptakan supaya remaja ikutan dengan gaya hidup jahiliyah ini. Maka jangan heran bila semua media massa memberikan gambaran yang dibutuhkan dan harus dijalani kaum remaja, dan pacaran adalah salah satunya. Pokoke, kalo nggak pacaran, nggak gaul deh. Kalo nggak rendezvous, nggak seru. Aduh, kontan aja teman remaja yang tekor iman bisa langsung percaya dengan pameo ini. Gaswat bin bahaya, sobat.

Apa kamu mau ikut-ikutan gaya hidup remaja Barat yang liar bin binal? Perlu kamu tahu, bahwa anak gadis di sana, pada usia 17 belum juga dapat gacoan, ortunya resah, termasuk anaknya dong. Maka tak usah kaget atawa heran, kalo mereka kemudian diberikan kebebasan oleh ortunya untuk bergaul dengan teman pria mereka dengan sesuka mereka. Dengan begitu, angka seks bebas di negara yang emang membiarkan terjadi begitu, terbukti tinggi. Nah, kasus 'PD' bisa terjadi bila hubungan antara dua lawan jenis ini begitu dekat dan lengket. Sebab, nggak mungkin terjadi hal begituan bila hubungannya terjaga dengan benar dan baik. Sementara dalam pacaran, kamu tahu sendiri kan bagaimana aktivitasnya? Begitulah gambaran perbuatan yang nyerempet-nyerempet dengan perzinaan. Dan sudah jelas bahwa aktivtas z-i-n-a itu adalah haram. (QS al-Isrā [17]: 32)

Nikah dipersulit, gaul bebas dipermudah

Acapkali manusia suka kebalik-balik dalam menilai suatu perbuatan.Sebab, yang jadi patokan mereka dalam berbuat cuma mengandalkan perasaan dan ogah menggunakan akalnya. Walhasil, sering dibikin pusing oleh keputusannya sendiri. Nah, dalam masalah pergaulan bebas, masyarakat suka menilai bahwa baik dan buruknya suatu perbuatan hanya dilihat dari apakah perbuatan itu menguntungkan baginya secara materi atau tidak. Itu salah besar, brur. Suer. Sebab, yang kita anggap baik, siapa tahu malah jelek dalam pandangan Allah. Dan begitupun sebaliknya. Firman Allah Swt: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (terj. QS al-Baqarah : 216).

Dipikir-pikir, mau ibadah aja kok sulitnya minta ampun, tapi mau maksiat malah dikasih jalan bebas hambatan. Wah, kebalik-kebalik emang. Coba, untuk nikah aja harus pake ngurus beragam administrasi. Mending kalo cuma ngisi formulir doang, ini pake ngisi amplop dengan duit pelicin segala. Berabe kan?. Padahal itu baru melangkah. Berikutnya, kita dihadang dengan PP yang membatasi usia pernikahan dalam UU Perkawinan, terus juga adanya larangan nggak boleh menikah saat masih sekolah. Aduh, seabrek alasan untuk menghambat pernikahan.Itu termasuk kendala eksternal. Selain itu, memang ada juga kendala internal, yakni belum siap mental dan belum mapan alias nggak punya biaya.

Bagi sebagian remaja bisa jadi dengan adanya sinetron "PD" ini makin menambah keyakinannya bahwa MBA adalah jalan terbaik bila saat pacaran mereka kebablasan. Bukan tak mungkin pula bila kemudian ada remaja yang nekat menghamili pacarnya bila hubungan mereka tak direstui oleh ortunya. Gawat kan? Dan ini sebagai bukti bahwa ternyata nikah dipersulit-kecuali kalo "kecelakaan", tapi anehnya, perilaku gaul bebas malah dipermudah.Astaghfirallah! Inilah rusaknya sistem demokrasi. Inilah amburadulnya sistem kapitalisme. Dan yang pasti, jangan sampe "kasus" sinetron Pernikahan Dini ini kemudian mengilhami para remaja, bahwa pacaran tetep jalan terus, kalo sampe "kejadian", gampang, tinggal minta dikawinin aja. Aduh, dengan begitu, jadi nggak takut lagi dengan perbuatan maksiat. Bener-bener ngegampangin banget dalam urusan dosa.

Dalih orang yang berpacaran sungguh tidak tepat, karena bagaimanapun tidak bisa kita mengenal lawan jenis harus dengan pacaran, itu alasan yang terlalu dibuat-buat. Buktinya orang pacaran kemudian melanjutkan hubungannya dengan mahligai perkawinan tidak sedikit yang akhirnya cerai begitu saja, apakah itu bisa menjadi alasan bahwa pacaran bisa melanggengkan hubungan cinta karena telah mengenal lawan jenisnya?Rupanya kita harus cepat-cepat ninggalin pacaran sebagai aktivitas yang tidak dibenarkan syara' dan malah menimbulkan masalah besar.

So, apapun yang ditayangkan oleh "PD" entah itu kemajuan zaman, kehidupan glamour, cara gaul atau yang lainnya, tapi satu hal yang pasti sedang diusung oleh sinetron "PD" adalah legalitas atau pembolehan pacaran untuk dilakukan. Kalo di sinetron "PD" pacarannya Gunawan dan Dini kebablasan, maka pesan yang disampaikan oleh sinetron adalah boleh Pacaran Dulu tapi jangan sampe MBA. Namun yang namanya barang buruk tidak bisa buat contoh, bagaimanapun legalitas pacaran lewat sinetron-sinetron semacam "PD" tidaklah menyelesaikan problematika seks, yang ada justru timbulnya masalah lain yang lebih ruwet bin njlimet.

Kehamilan Dini itulah puncak dari sinetron ini, kemudian harus diteruskan pernikahan dini mereka. Trus, ortu mereka sudah sepakat untuk mengawinkan mereka, meski dengan susah payah. Nah, kamu musti jeli sobat, justru dari situlah, sinetron ini hendak meracuni remaja bahwa pacaran tetap boleh, kalaupun nanti hamil itu urusan belakangan, jangan diaborsi itu tidak manusiawi, begitulah kira-kira pesan yang dibawa "PD". Jadi kalau ada yang mau pacaran monggo, silahkan, kalo nanti hamil, nikah aja !!! Wah, itu bener-bener cara berpikir yang miring alias tidak waras.

Come Back To Islam

Kita tentu sudah paham yang namanya remaja adalah manusia, maka pembahasan mengenai remaja tidak bisa dilepaskan dari pembahasan dia sebagai manusia. Maka dari itu kebutuhan remaja akan suka terhadap lawan jenisnya tidak bisa dipisahkan dari pembahasan manusia, bahwa manusia mempunyai potensi kehidupan yang dinamis yang senantiasa mau tidak mau membuat manusia beraktivitas dalam kehidupan ini.

Kecenderungan remaja untuk berkelompok, bergaul dengan sesama dan ingin diakui eksistensinya adalah merupakan hal yang fitrah/manusiawi, kecenderungan seperti itu bukan dihilangkan, tetapi boleh dipenuhi, hanya pemenuhannya diatur. Ketika manusia butuh makan (yang merupakan potensi manusia/ kebutuhan jasmani), kita tidak dilarang untuk makan, namun ketika kita ingin makan, mulai dari apa yang dimakan, bagaimana cara mendapatkan atau bagaimana cara makan itu ditentukan aturannya. Analog dengan hal tersebut, kebutuhan remaja untuk suka terhadap lawan jenis bukanlah dihilangkan tapi diatur.

Oleh karena itu dibutuhkan suatu aturan yang bukan aturan seperti yang diterapkan sekarang yang menerapkan paham kebebasan. Tapi dibutuhkan suatu aturan yang sesuai fitrah manusia yang tentu saja kalau dimunculkan siapa yang lebih tahu fitrah manusia adalah yang membuat manusia dalam hal ini adalah Allah, maka dari itu kita harus merujuk kepada Allah, bagaimana Allah mengatur pemenuhan kebutuhan remaja akan suka terhadap lawan jenis. Sebab Allah lebih tahu 'benda ciptaanya' yakni manusia sehingga DIA telah menciptakan aturan yang tentu saja sesuai fitrah manusia dan tuntas menyelesaikannya. Kita semua yakin Allah maha tahu, tentu saja kemahatuan Allah juga meliputi tentang manusia dan masalahnya. Sehinggga Allah berifrman tentang hal tersebut : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk" (terj. QS. Al-Isra 32)

Islam tidak hanya melarang zina, aktivitas yang mendekati zina pun dilarang seperti halnya kredit zina sehingga Islam punya langkah preventifnya, misalnya disyariatkannya pakaian muslimah bagi perempuan (jilbab) yang tidak ketat, tidak tembus pandang, tidak menyerupai pakaian laki-laki dll (terj. Qs. al-Ahzab 53, An-Nuur 31). Langkah preventif yang lain misalnya mengenai pergaulan/interaksi antar lawan jenis, Islam mengatur laki-perempuan dilarang berduan tanpa disertai mahramnya sabda Rasulullah Saw, yang artinya : "Janganlah seorang laki-laki berdua-duan dengan seorang wanita, tanpa disertai muhrimnya"

Wanita tidak diperbolehkan berhias berlebihan, menampakkan perhiasannya di depan umum. Seks itu terjadi karena ada rangsangan jika ada rangsangan untuk melakukan seks maka terjadilah seks itu, bisa saja hanya karena rangsangan bau saja terjadi hal tersebut. Misalnya wanita dilarang memakai parfum. "Apabila ada perempuan memakai wewangian, kemudian lewat di suatu kaum, dan supaya kaum tersebut mencium wewangiannya, maka wanita tersebut pelacur. (terj. HR. Annassai)

Kecenderungan seseorang terhadap lawan jenis merupakan potensi kehidupan dalam hal ini adalah naluriah, naluri itu akan muncul jikalau, ada rangsangan dari luar diri manusia, rangsangan itu bisa berupa pemikiran-pemikiran yang menjurus kepada seksualitas atau hanya berupa bacaan dan atau tontonan berbau seks. Maka dari itu besar kecilnya frekuensi dari "naluri" berpacaran sangat tergantung dari banyak-sedikitnya kamu, mengkonsumsi fakta atau pemikiran tentang pacaran, kalo kamu masih sering nonton sinetron semacam "PD" trus kamu terhanyut dalam kisahnya sudah barang pasti, jadinya adalah pacaran.

Sobat, dalam ajaran agama kita telah diatur dengan jelas, bagaimana seharusnya kita bersikap dan bertingkah laku. Tentu supaya kita selamat di dunia dan di akhirat. Jadi sebetulnya, nikah dalam usia dini lebih baik ketimbang MBA. Nikah ibadah, gaul bebas maksiat.Namun, bila kamu masih belum mampu ke arah sana. Lebih baik hindari pacaran, seringlah berpuasa, dan fokus belajar, itu solusi yang terbaik friend daripada kamu pacaran sana, pacaran sini, apa yang didapat cuman senang doang, khan? Buat apa, brur, seneng di dunia ini tapi di akhirat nanti kamu bakal torok, hih. Nggak demen khan dibilang rugi? makanya ngaji Islam, biar kamu tambah PD alias percaya diri, bukan PD-nya Sahrul dan Agnes. (LBR).


Hak cipta selamanya oleh Allah © Subhanahu wa Ta'ala

Semua materi dapat disalin dan disebarkan (syukur-syukur ...) dengan mencantumkan tentang-pernikahan.com